Tiroiditis Limfositik Laten

Monday, December 11th, 2017 - Penyakit

Tiroiditis limfositik laten adalah peradangan pada kelenjar tiroid, yang disertai oleh penyusupan (infiltrasi) limfosit. Penyakit ini paling sering menyerang wanita, terutama setelah melahirkan dan menyebabkan pembesaran tiroid tanpa disertai perlunakan.

Tiroiditis Limfositik Laten atau biasa disebut juga Silent Lymphocytic Thyroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid, yang disertai oleh penyusupan (infiltrasi) limfosit. Kata silent disini mengarah pada peradangan yang tidak disertai rasa nyeri.

Penyakit tiroiditis limfositik laten bersifat self-limited, atau akan hilang dengan sendirinya. Gangguan yang bersifat subakut paling sering terjadi pada wanita pada periode setelah melahirkan. Gejala-gejala yang muncul pada awalnya adalah gejala hipertiroidisme, kemudian hipotiroidisme, dan kemudian menyembuh ke keadaan eutiroid.

Penyebab Tiroiditis Limfositik Laten

tiroiditis limfositik laten,penyakit tiroiditis limfositik laten,penyebab tiroiditis limfosotik laten,gejala tiroiditis limfosotik laten,definisi tiroiditis limfosotik laten,pengertian tiroiditis limfosotik laten,arti tiroiditis limfosotik laten,penderita tiroiditis limfosotik laten,bahaya tiroiditis limfosotik laten,akibat tiroiditis limfosotik laten,obat untuk tiroiditis limfosotik laten,cara mengobati tiroiditis limfosotik laten

Penyebabnya tiroiditis limfositik laten tidak diketahui. Terjadi penyusupan limfosit (sejenis sel darah putih) ke dalam kelenjar tiroid.

Gejala

Selama beberapa minggu sampai beberapa bulan, penderita tiroiditis limfositik laten mengalami hipertiroidisme yang diikuti oleh hipotiroidisme, sebelum akhirnya memiliki fungsi tiroid yang normal.

Penyakit tiroiditis limfositik laten ini dimulai pada masa postpartum (setelah melahirkan), biasanya dalam waktu 12-16 minggu. Tiroiditis limfositik laten memiliki gejala khas yaitu adanya pembesaran kelenjar tiroid yang tidak nyeri dengan adanya fase hipertiroidisme selama beberapa minggu, diikuti dengan fase hipotiroidisme akibat habisnya hormon tiroid, tetapi biasanya akan menyembuh ke keadaan eutiroid.

Fase hipertiroidisme akan pulih kembali, dapat berlangsung singkat dan mungkin dapat terabaikan. Banyak penderita tiroiditis limfositik laten baru terdiagnosa saat mereka mengalami fase hipotiroidisme, yang kadang-kadang dapat bersifat permanen.

Diagnosa Tiroiditis Limfositik Laten

Penyakit ini terkadang tidak terdiagnosa. Biasanya penyakit baru terdiagnosa saat hipotiroidisme terjadi. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid.

Hasil pemeriksaan fungsi kelenjar tiroid tergantung pada fase penyakit. Awalnya akan terjadi fase hipertiroidisme, kadar triiodothyronine (T3) dan thyroxine (T4) dalam darah akan meningkat, tetapi kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) akan menurun. Pada fase hipotiroidisme, akan terjadi kebalikannya, dimana kadar triiodothyronine (T3) dan thyroxine (T4) dalam darah akan menurun, tetapi kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) akan meningkat.

Pemeriksaan darah akan menunjukan kadar sel darah putih dan laju endap darah yang normal.

Biopsi kelenjar tiroid menunjukkan adanya infiltrasi limfosit.

Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid. Denyut nadi bisa meningkat.

Kadar T3 dan T4 dalam darah meningkat. Biopsi kelenjar tiroid menunjukkan adanya infiltrasi limfosit.

Pengobatan Tiroiditis Limfosotik Laten

Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan khusus. Pengobatan diberikan untuk mengatasi hipertiroidisme maupun hipotiroidisme.

Beta bloker (misalnya Propanolol) seringkali merupakan satu-satunya obat yang diperlukan untuk mengobati gejala hipertiroidisme. Selama terjadinya hipotiroidisme, penderita menjalani terapi sulih hormon, biasanya tidak lebih dari beberapa bulan. Pada 10% penderita tiroiditis limfositik laten hipotiroidisme menjadi menetap.